4 Hal yang Harus Diketahui tentang Masa Depan Permintaan Minyak

 4 Hal yang Harus Diketahui tentang Masa Depan Permintaan Minyak


Ini akan terjadi satu tahun setelah pandemi COVID-19 menyebar ke seluruh dunia dan lockdown global meluas ke luar China hingga hampir seluruh dunia. Situasi permintaan minyak global masih berada di tengah ketidakpastian.

Namun, beberapa aspek pasar minyak sekarang lebih dipahami. Saat ini, penting bagi kita untuk mencari tahu dampak musim dingin terhadap produksi dan penyulingan minyak di Texas; apa yang OPEC+ akan lakukan jika bertemu dalam dua pekan; mengapa harga bahan bakar AS naik; dan apa yang bisa kita dapatkan sekarang terkait masa depan permintaan minyak:

1. Gangguan Sementara pada Pasokan Minyak AS

 Suhu yang sangat dingin di Texas telah menyebabkan penurunan signifikan pada produksi minyak mentah di Amerika Serikat pekan ini. Menurut informasi terbaru, lebih dari 4 juta bpd minyak (dari 4,6 juta bpd yang biasanya diproduksi Texas) sekarang tidak beroperasi. Jumlah tersebut mewakili sekitar 40% dari total produksi minyak AS.

Sebagai perbandingan, Oktober lalu, produsen menutup sekitar 92% produksi minyak mentah di Teluk Meksiko sebagai persiapan menghadapi Hurricane Delta sebesar 1,68 juta bph. Suhu seharusnya meningkat sepanjang akhir pekan. Gangguan dapat berlangsung hingga pekan depan, namun beberapa produksi kemungkinan tidak beroperasi lebih lama jika perbaikan yang signifikan diperlukan.

Sebagian besar kapasitas penyulingan di kawasan Teluk Meksiko juga tidak beroperasi karena alasan serupa. Total (PA:TOTF) Gangguan pada penyulingan kemungkinan mencapai sekitar 4 juta bpd. Harga minyak naik pada awal pekan di tengah kabar bahwa penutupan seperti itu mungkin akan terjadi, dan WTI akhirnya mencapai $60 per barel.

 

Oil Weekly TTM

 

Harga-harga naik sebesar 1% lagi pada hari Rabu, karena rincian lebih lanjut mengenai gangguan semakin jelas, meskipun trader harus bersiap untuk mundur dari kenaikan harga ini karena produksi dan penyulingan kembali. Harga Bensin juga naik di Amerika Serikat sebagai akibat dari pemadaman kilang, sebagai contoh, harga naik sekitar $0,05 per galon di Midwest pada hari Rabu.

Pemadaman ini tidak akan tampak dalam EIA mingguan pada 18 Februari laporan mengenai produksi dan konsumsi minyak AS, namun  trader harus berharap untuk melihat pemadaman ini akan tercermin dalam data yang dirilis minggu depan dan seterusnya.

2. OPEC+ Akan Bertemu pada 4 Maret

Anggota OPEC+ sedang bersiap untuk pertemuan dalam dua pekan dan sudah mulai mempresentasikan posisinya kepada media. Saat ini, Arab Saudi menahan tambahan 1 juta barel per hari produksi, namun, menurut laporan dari Wall Street Journal, pihaknya bermaksud untuk melanjutkan kebijakan ini hanya sampai akhir Maret.

Arab Saudi akan melanjutkan pemompaan kuota minyaknya pada bulan April. Ini merupakan posisi Arab Saudi ketika mengumumkan “pemotongan mendadak” pada bulan Januari, sehingga informasi ini membenarkan bahwa kebijakan Arab Saudi tidak berubah dalam beberapa pekan terakhir.

Di sisi lain, Rusia diberi wewenang oleh OPEC+ untuk meningkatkan produksi pada bulan Februari dan Maret, namun mereka belum dapat memompa lebih banyak barel karena cuaca dingin yang abnormal. Rata-rata produksi minyak Rusia sebenarnya sebesar 10,115 juta barel per hari pada Februari, sekitar 44.000 barel per hari kurang dari Januari. Ada kemungkinan bahwa suhu yang lebih hangat pada bulan Maret dapat meningkatkan produksi minyak Rusia.

Pada pertemuan 4 Maret, OPEC+ akan memutuskan apakah akan terus memompa minyak pada level saat ini pada bulan April (dengan tambahan pengembalian 1 juta bpd dari Arab Saudi) atau dapat memutuskan untuk menaikkan tingkat produksi karena harga lebih tinggi. Rusia mengindikasikan pekan ini bahwa mereka percaya pasar minyak seimbang, sementara Arab Saudi menyatakan optimisme yang lebih berhati-hati dan tidak terlalu besar terkait keadaan pasar saat ini.

3. Harga Bensin yang Lebih Tinggi di AS

 Harga rata-rata satu galon bensin telah meningkat hampir $0,20 dalam sebulan terakhir, hal tesebut memicu kekhawatiran bahwa konsumen AS mungkin akan mengalami kembali harga bensin yang tinggi yang menjadi ciri pemerintahan Obama. Oleh karenanya, beberapa kenaikan harga minyak dapat dikaitkan dengan sentimen yang diciptakan oleh perintah eksekutif awal pemerintahan Biden mengenai penyewaan minyak dan gas serta transportasi minyak.

Namun, perintah eksekutif ini belum memengaruhi aspek fundamental. Kenaikan harga sebagian besar disebabkan oleh pengetatan fundamental yang tidak terkait dengan kebijakan ini.

4. Permintaan Minyak yang Dipertanyakan 

Permintaan minyak jangka pendek di AS dan Eropa masih menjadi pertanyaan utama. Konsumsi bensin tidak dapat diharapkan untuk kembali ke tingkat sebelumnya sampai pergerakan bebas diperbolehkan, para siswa dapat kembali ke sekolah dan lebih banyak pekerja kembali ke kantor mereka.

Banyak negara di Eropa telah memperpanjang perintah lockdown mereka hingga Maret atau April, meskipun di beberapa negara, badan legislatif atau pengadilan menolak otoritas eksekutif. Di Amerika Serikat, situasinya juga tidak jelas. Banyak distrik sekolah di AS belum melanjutkan kelas penuh waktu di sekolah, sehingga banyak orang tua tidak dapat kembali bekerja di luar rumah. Banyak ahli forecast tampak mengandalkan dimulainya kembali sekolah full-time di musim gugur, namun situasi politik di Amerika akan menghambat hal tersebut.

Dalam jangka panjang, permintaan minyak diperkirakan akan tumbuh di luar Eropa dan Asia. (Pekan lalu, kolom ini meneliti potensi pertumbuhan India). Trader tidak boleh lupa bahwa meskipun situasi permintaan jangka pendek masih dipertanyakan, situasi permintaan jangka panjang lebih pasti.



Sumber:investing.com