Commodities Week Ahead: Emas Berada Dalam Situasi yang Sulit, ‘Lockdown’ di China Menghambat Minyak

 Commodities Week Ahead: Emas Berada Dalam Situasi yang Sulit, ‘Lockdown’ di China Menghambat Minyak


Emas selama ini menunjukan kekuatannya sampai melewati level US$1.900.  Akan tetapi, dalam pekan ini emas berada di level yang kurang menguntungkan. 

Demikian dengan kasus kenaikan harga minyak. Dengan reli minyak mentah di atas $50 per barel, harga minyak terancam akibat lockdown COVID-19 pertama di China yang diterapkan dalam beberapa bulan ini. 

old Daily

Data inflasi harga konsumen AS pada hari Rabu memberikan harapan akan adanya kenaikan ringan, dimana hal ini dapat menjaga perdagangan emas dalam kisaran $1.830-$1.850, dan menghentikan penjualan di harga yang tidak masuk akal dimana emas turun lebih dari $100 dari tertinggi pekan lalu.

Menambah momentum kenaikan emas juga bisa terjadi pada penjualan ritel AS bulanan hari Jumat yang diperkirakan akan menunjukkan perlambatan pada bulan Desember karena lonjakan pandemi yang merugikan belanja liburan.

Selain itu, Ketua Federal Reserve Jerome Powell dijadwalkan untuk angkat bicara pada hari Kamis, dimana Powell akan menegaskan kembali bahwa suku bunga mendekati nol hingga setidaknya tahun 2023, dan bahwa jalur ekonomi secara signifikan bergantung pada jalannya virus.

Pembicara Fed lainnya yang akan tampil pekan ini termasuk Presiden Fed Atlanta Raphael Bostic, Presiden Fed Cleveland Loretta Mester, Presiden Fed Boston Eric Rosengren, Gubernur Fed Lael Brainard, Presiden Fed Philadelphia Patrick Harker dan Wakil Ketua Fed Richard Clarida.

Akankah Grafik Teknis yang Lemah Akan Terus Mengancam Minyak?

Terlepas dari semua ini, jika kelemahan dalam grafik teknis terus menghantui emas, maka pintu jebakan di bawah $1.800 dapat terbuka, mendorongnya ke $1.790 pada pemberhentian pertama, kata Sunil Kumar Dixit, analis di Kolkata, SK Dixit Charting yang berbasis di India.

“Kelemahan dalam emas belum benar-benar ditutup setelah penjualan konyol pekan lalu dan dari segi grafik, ada sedikit kenyamanan yang dapat ditarik oleh bulls pada saat ini.”

“Kecuali jika kita melihat pergerakan berkelanjutan di atas $1.858 ke $1.860 yang bertepatan dengan Simple Moving Average 200-Hari pada grafik empat jam, emas sangat mungkin mencapai 50 pekan Exponential Moving Average di $1.790.”

“Meskipun demikian, jika inflasi AS dan data lainnya mendukung emas pekan ini, maka langkah yang menentukan di atas $1.858 dapat membawanya lebih tinggi ke $1.878- $1.893- $1.900.”

Keruntuhan hari Jumat yang mengambil hampir $80 dari emas tampak hampir tidak masuk akal karena terjadi setelah rilis laporan ketenagakerjaan AS bulan Desember, yang menunjukkan hilangnya 140.000 pekerjaan.

Biasanya, ketika laporan pekerjaan buruk, emas bertindak sebagai lindung nilai. Dan ini adalah pertama kalinya dalam delapan bulan laporan pekerjaan AS mencatat pertumbuhan negatif, sejak puncak wabah COVID-19 pada April.

Namun, beberapa pihak menganggap pantas menjual emas dengan narasi bahwa Presiden terpilih Joseph Biden akan memiliki “stabilitas” aturan yang mengurangi kebutuhan untuk melakukan lindung nilai di tempat berlindung yang aman seperti emas, karena ketiga dewan legislatif AS — Gedung Putih, Dewan Perwakilan Rakyat dan Senat — akan berada di bawah kendali Partai Demokratnya.

Pemikiran itu mengirim imbal hasil pada obligasi 10-tahun AS naik 4% pada hari Jumat saja dan 19% pada minggu ini — terbesar sejak pekan yang berakhir 7 Agustus, ketika reli serupa di obligasi menghancurkan emas $2.000 plus reli.

Emas tidak pernah mendapatkan kembali kejayaannya sejak jatuh dari rekor tertinggi hampir $2.090 pekan itu. Lonjakan imbal hasil memberikan penyelamat bagi Indeks Dolar yang terpukul — pembalikan perdagangan dengan emas — yang sejak itu naik di atas level kunci 90.

Apa yang tampaknya dilupakan oleh semua penjual emas pada hari Jumat adalah rencana Biden untuk mengirimkan cek senilai $2.000 kepada setiap orang Amerika, hampir segera setelah dia menjabat pada 20 Januari. Presiden terpilih mengatakan dia bermaksud untuk mendorong setidaknya dua paket stimulus yang lebih komprehensif yang dapat menambah triliunan ke hutang federal AS, diperkirakan telah mencapai $3,8 miliar untuk tahun 2020.

Dan apa yang bulls emas ini akan lakukan terhadap dolar? Jumlah uang beredar yang meningkat hampir selalu memiliki konsekuensi negatif bagi dolar AS. Jika ekonomi dan pasar tenaga kerja mendukung Federal Reserve untuk mempertimbangkan menaikkan suku, dolar akan mencapai titik terendah baru. Hal itu dan situasi utang AS yang terus meningkat akan membutuhkan lindung nilai dalam “aset aman”, bahkan jika aset tersebut tidak menghasilkan imbal hasil. Emas adalah jawaban yang terbukti, bukan Bitcoin dengan penilaian yang mencurigakan sehingga dapat mengalami swing 50% dalam sehari.

Meski begitu, beberapa analis memiliki harapan tinggi untuk emas di pekan ini.

Jeffrey Halley, kepala analisis Asia untuk broker online OANDA yang berbasis di Sydney, meyakini emas dapat tergelincir lebih jauh di bawah $1.790. Ia menambahkan:

“Kegagalan di $1760.00 per ons akan menuntut penilaian ulang dan kerugian emas dalam skenario itu dapat meluas ke $1.650.00 per ons pada awalnya.”

Wabah Pandemi Baru China Memiliki Dampak Serius Terhadap Minyak

Minyak mentah AS dan Brent yang diperdagangkan di London, keduanya jatuh pada perdagangan Asia hari Senin di tengah kekhawatiran baru tentang permintaan bahan bakar global di tengah lockdown COVID-19 yang ketat di Eropa dan pembatasan pergerakan baru di China, pengguna minyak terbesar kedua di dunia.

il Daily

il Daily

China Daratan mengalami peningkatan harian terbesar dalam kasus COVID-19 dalam lebih dari lima bulan, otoritas kesehatan nasional negara itu mengatakan pada hari Senin, ketika infeksi baru di provinsi Hebei, yang mengelilingi ibu kota Beijing, terus meningkat.

Shijiazhuang, ibu kota Hebei dan pusat wabah baru di provinsi itu, diisolasi dengan orang-orang dan kendaraan dilarang meninggalkan kota karena pihak berwenang bergerak untuk mengekang penyebaran penyakit.

Sebagian besar Eropa sekarang berada di bawah pembatasan ketat, menurut indeks keketatan Oxford, yang menilai indikator seperti larangan perjalanan dan penutupan sekolah dan tempat kerja.

Minyak memulai 2021 dengan gebrakan, dengan harga minyak mentah mengakhiri pekan pertama tahun ini naik 8% karena gembong OPEC Arab Saudi melanjutkan dengan strategi pasokan yang lebih rendah untuk jangka panjang.

Sejak pengumuman Selasa oleh kerajaan bahwa mereka akan memangkas tambahan satu juta barel per hari dari produksinya pada bulan Februari dan Maret, perhatian pasar minyak hampir seluruhnya tertuju pada potensi pengurangan pasokan global.

Hilang, atau lebih tepatnya terabaikan, adalah melemahnya permintaan bahan bakar di Amerika, terutama dengan permintaan bensin yang turun ke titik terendah sejak dimulainya pandemi. Persediaan distilat berbahan bakar diesel juga menumpuk.

Analis minyak Osama Rizvi mengatakan dalam sebuah blog yang dimuat di Oilprice.com selama sepekan bahwa permintaan China pada akhirnya akan menentukan pasar minyak. Dia menambahkan:

“China hampir sendirian menyelamatkan pasar komoditas selama pandemi, tetapi impornya sekarang melambat. Interaksi antara AS dan China akan menjadi faktor penting dalam performa ekonomi China di tahun 2021.”

“Keputusan Arab Saudi untuk memperpanjang pengurangan produksi pada awal tahun adalah berita yang sangat baik bagi para pengebor AS, tetapi industri ini masih berada di tahun yang sulit jika pandemi global tidak ditangani dan jika permintaan minyak tidak pulih dengan cepat.”

Mereka yang meragukan Rizvi harus melihat ekspor minyak mentah mingguan AS yang mendekati rekor 3,63 juta barel per hari sekarang dan menyumbang 33% dari produksi: sebagian besar dikirim ke China.

Sanggahan: Barani Krishnan menggunakan berbagai pandangan di luar dirinya untuk membawa keragaman dalam analisisnya tentang berbagai pasar. Dia tidak memiliki atau memegang posisi dalam komoditas atau sekuritas yang dia tulis.



Sumber:investing.com