Dolar AS Kian Beranjak Naik, Sepekan Melonjak 2% Lebih

 Dolar AS Kian Beranjak Naik, Sepekan Melonjak 2% Lebih



© Reuters.

Oleh Peter Nurse

Investing.com – Dolar Amerika Serikat kian bergerak naik pada Jumat (18/06) petang, terus mendapat suntikan dorongan dari langkah mengejutkan Federal Reserve pada Kamis dalam memajukan jadwal untuk menaikkan suku bunga.

Pada pukul 13.53 WIB, indeks dolar AS terus naik 0,16% di 92,023 menurut data Investing.com setelah sebelumnya mencapai titik tertinggi lebih dari dua bulan di atas 92. Untuk sepekan, indeks saat ini telah melonjak 2,25%.

USD/JPY turun 0,11% ke 110,08, EUR/USD melemah 0,15% di 1,1889, GBP/USD turun 0,37% di 1,3867 dan AUD/USD melemah 0,32% ke 0,7526.

Di Indonesia, rupiah makin beranjak turun 0,28% ke 14.390,0 per dolar AS sampai pukul 13.50 WIB.

Dolar AS masih menuai hasil dari Federal Reserve AS, bank sentral negara itu, mengambil sikap yang lebih hawkish dari yang diharapkan dan merencanakan dua kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada tahun 2023, setahun lebih awal dari yang diharapkan.

Ini merupakan perubahan mendadak dari pertemuan sebelumnya ketika tidak ada pejabat yang menginginkan kenaikan selama tahun itu. Selain itu, Kepala Fed Jerome Powell mengindikasikan bahwa anggota Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) telah memulai pembicaraan untuk menghentikan program pembelian obligasi besar-besaran bank sentral.

Pergerakan ini menunjukkan kepada pasar bahwa hari-hari likuiditas yang berlimpah akan segera berakhir.

“Kami pikir tapering kemungkinan akan dikirim melalui telegram di Jackson Hole Symposium pada akhir Agustus, dengan pengumuman resmi pada pertemuan FOMC September, dan pengurangan pembelian yang sebenarnya terjadi di kuartal IV,” pungkas analis di ABN Amro dalam catatan.

Sebelumnya Jumat, Bank of Japan mempertahankan suku bunga utamanya tidak berubah, seperti yang diharapkan, dan memutuskan untuk memperpanjang batas waktu enam bulan September untuk programnya yang membantu perusahaan yang dilanda dampak pandemi.

Ekonomi Jepang tengah berjuang untuk pulih dari langkah-langkah yang diberlakukan untuk memerangi virus, setelah produk domestik bruto turun 3,9% periode tahunan pada kuartal pertama.

Harga konsumen inti naik sebesar 0,1% pada Mei dari tahun sebelumnya, kenaikan tahun ke tahun pertama sejak Maret 2020 tetapi masih jauh dari target 2% bank sentral.

Pada hari Kamis, Swiss National Bank, bank sentral Turki dan Norges Bank semuanya mempertahankan suku bunga tidak berubah. Sedangkan, Bank sentral Norwegia memberi sinyal kenaikan bunga acuan pada bulan September seiring ekonominya pulih lebih cepat daripada sebagian besar rekan-rekan negara lainnya.



Sumber:investing.com