Dolar AS Lanjut Naik, Fed Dinilai Beri Toleransi Kenaikan Yield Obligasi

 Dolar AS Lanjut Naik, Fed Dinilai Beri Toleransi Kenaikan Yield Obligasi


© Reuters.

Oleh Peter Nurse

Investing.com – Dolar Amerika Serikat terus beranjak naik pada Selasa (02/03) petang. Federal Reserve dipandang mengambil sikap yang lebih liberal atas pergerakan imbal hasil obligasi yang lebih tinggi daripada rekan-rekan bank sentral lainnya.

Indeks dolar AS terus naik 0,17% ke 91,188 pukul 18.21 WIB menurut data Investing.com. EUR/USD turun 0,19% ke 1,2024, GBP/USD melemah 0,17% di 1,3898 dan USD/JPY naik 0,16% di 106,93.

Sementara rupiah kian melemah 0,53% ke 14.325,0 per dolar AS hingga pukul 14.58 WIB (USD/IDR).

Adapun AUD/USD menguat 0,33% di 0,7794 pukul 18.23 WIB setelah Reserve Bank of Australia (RBA) berkomitmen kembali untuk mempertahankan suku bunga pada posisi terendah dalam sejarah. NZD/USD stabil di level 0,7263 dan USD/CAD naik tipis 0,03% ke 1,2649.

Pasar mata uang baru-baru ini mengambil isyarat dari pergerakan pasar obligasi global, kala imbal hasil Treasury telah stabil dan dolar AS telah beranjak naik di tengah ekspektasi Fed akan menunjukkan toleransi yang lebih besar dari pergerakan imbal hasil obligasi yang lebih tinggi daripada bank sentral lainnya.

Ketua Fed AS Jerome Powell baru-baru ini mencoba mengurangi ekspektasi kebijakan pengetatan awal. Ia mengatakan bank sentral akan melihat melalui lonjakan inflasi jangka pendek dan ia juga akan berbicara mengenai ekonomi lagi pada minggu ini.

Selain itu, Presiden Fed Richmond Thomas Barkin mengecilkan volatilitas pasar Treasury baru-baru ini, dalam pernyataannya yang memperkuat pesan bahwa bank sentral AS belum terganggu oleh kenaikan imbal hasil.

Namun, Bank Sentral Eropa (ECB) telah mengambil sikap yang berbeda. Para pejabat ECB menyatakan kekhawatirannya mengenai kenaikan imbal hasil obligasi baru-baru ini.

Presiden ECB Christine Lagarde mengatakan bank sentral akan mencegah kenaikan prematur dalam biaya pinjaman untuk perusahaan dan rumah tangga, sementara François Villeroy de Galhau, Gubernur Bank Prancis, mengatakan beberapa kenaikan imbal hasil obligasi baru-baru ini tidaklah beralasan.

Euro juga melemah pada Selasa ini pasca penjualan ritel Jerman yang lemah karena tindakan penguncian Covid-19 dan penarikan pemotongan sementara pajak penjualan menghantam belanja konsumen di negara ekonomi terbesar Eropa.

Penjualan ritel turun 4,5% pada bulan tersebut secara riil setelah direvisi naik 9,1% pada bulan Desember.

“Namun, selama pembukaan kembali ekonomi tetap di jalur dari Q2 – yang kami masih percaya akan terjadi – volatilitas akan memberi jalan untuk dimulainya kembali tren penurunan dolar tahun ini,” kata analis di ING, dalam catatan riset.

“Meskipun ada ancaman ECB untuk menurunkan suku bunga, kami masih memperkirakan EUR/$ akan menekan 1,25 musim panas ini dan kemungkinan nbisa menembus di atasnya di tengah pertumbuhan global yang luas hingga akhir tahun.”



Sumber:investing.com