Dolar AS Melemah Seiring Penurunan Yield Obligasi

 Dolar AS Melemah Seiring Penurunan Yield Obligasi


© Reuters.

Oleh Gina Lee

Investing.com – Dolar Amerika Serikat beranjak melemah pada Rabu (13/01) pagi seiring penurunan imbal hasil obligasi AS mengurangi momentum kenaikan dari mata uang AS baru-baru ini dan investor kini kembali berhati-hati melanjutkan spekulasi atas penurunan dolar yang dapat berkelanjutan.

Indeks dolar AS turun 0,14% di 89,935 pukul 10.19 WIB. USD/JPY melemah 0,15% di 103,59. AUD/USD turun tipis 0,06% ke 0,7767 dan NZD/USD naik tipis 0,19% menjadi 0,7229.

Dari dalam negeri, rupiah (USD/IDR) bergerak menguat 0,29% di 14.079,5 per dolar AS hingga pukul 10.22 WIB.

Pasangan USD / CNY turun tipis 0,09% di 6,4549. Yuan juga menahan kenaikan, dengan perdagangan luar negeri berada pada level tertinggi satu minggu di awal sesi Asia hari Rabu.

Pasangan GBP/USD menguat 0,17% di 1,3686 pukul 10.24 WIB. Gubernur Bank of England (BOE) Andrew Bailey mengecilkan gagasan suku bunga negatif untuk meningkatkan pertumbuhan, mengatakan bahwa “ada banyak masalah” dengan mereka selama pidato daring di Kamar Dagang Skotlandia pada hari Selasa.

Imbal hasil acuan obligasi 10 tahun AS turun hampir 7 basis poin dari titik tertinggi 10 bulan yang dicapai pada hari Selasa, sehingga memadamkan reli tiga hari dolar dan mendorongnya kembali ke posisi terendah multi-tahun.

Namun, greenback bertahan di atas level tersebut di awal sesi, dengan reli yang meredam kepercayaan beberapa investor dalam pandangan konsensus bahwa defisit perdagangan dan anggaran AS akan mendorong dolar lebih rendah.

“Koreksi penguatan indeks dolar tampaknya akan berakhir dan tren turun telah kembali,” kata analis ANZ dalam catatan.

“Tapi dengan pasar aset AS di kursi penggerak, dengan ekuitas yang menentukan minat risiko dan obligasi AS memimpin di pasar suku bunga, ada baiknya bertanya apakah kita dapat menerima begitu saja kelemahan dolar,” tambah catatan itu.

Kemenangan Partai Demokrat dalam pemilihan umum putaran kedua Senat di negara bagian Georgia pada awal bulan memicu aksi jual pasar obligasi yang mendorong imbal hasil AS naik tajam, yang pada gilirannya menghentikan penurunan dolar. Kemenangan itu juga meningkatkan harapan atas pinjaman pemerintah dalam jumlah besar untuk mendanai langkah-langkah stimulus besar yang dijanjikan oleh Presiden terpilih AS Joe Biden ketika ia dan pemerintahannya mulai menjabat pada 20 Januari.

Namun, permintaan yang kuat terlihat pada lelang 10 tahun senilai $38 miliar semalam dan komentar dari pejabat Federal Reserve yang menegaskan kembali bahwa kebijakan moneter akan tetap mendukung dapat membuat dolar kembali turun.

“Pasar belum menyerah pada posisi short dolar, imbal hasil riil yang lebih rendah, perdagangan aset reflasi yang panjang,” kata kepala riset Pepperstone Chris Weston kepada Reuters.

Investor sekarang menunggu angka inflasi AS untuk Desember di mana Consumer Price Index akan dirilis. Data lebih lanjut, termasuk Producer Price Index, core retail sales dan industrial production, akan dirilis pada hari Jumat.

Presiden Fed Kansas City Esther George mengatakan pada hari Selasa bahwa ia tidak mengharapkan Fed bereaksi jika inflasi melebihi target 2% bank sentral, menambahkan bahwa ini akan sangat mengejutkan bagi investor yang gelisah.



Sumber:investing.com