Dolar AS Terus Menguat Ditopang Sentimen Inflasi & Yield Obligasi

 Dolar AS Terus Menguat Ditopang Sentimen Inflasi & Yield Obligasi


© Reuters

Oleh Peter Nurse

Investing.com – Dolar Amerika Serikat terus menguat pada Jumat (26/02) petang di tengah pergerakan fluktuatif imbal hasil obligasi AS dan mata uang risiko mengalami tekanan akibat kekhawatiran bank sentral harus mengetatkan kebijakan lebih cepat dari perkiraan sebelumnya.

Pada pukul 17.07 WIB, indeks dolar AS terus naik 0,49% ke 90,573 menurut data Investing.com. EUR/USD melemah 0,45% ke 1,2121, GBP/USD turun 0,51% di 1,3942 dan USD/JPY menguat 0,12% di 106,43.

Adapun AUD/USD lanjut turun 0,82% di 0,7808, NZD/USD makin melemah 0,64% di 0,7325 dan USD/CAD naik 0,22% di 1,2627.

Obligasi pemerintah, dan khususnya Treasury AS, telah mulai menjadi titik fokus pasar global, karena trader sekarang memperkirakan inflasi akan naik secara agresif lantaran pemulihan ekonomi ditopang oleh tingkat stimulus fiskal yang ekstrim dan kebijakan moneter yang sangat longgar. Dengan demikian, fakta bahwa lelang Treasury pada hari Kamis menarik rasio terlemah dari penawaran relatif terhadap volume penjualan yang dimaksudkan adalah katalisator untuk keruntuhan luas sentimen risiko di seluruh pasar. Imbal hasil Treasury AS 10 tahun sempat melewati level 1,6% untuk diperdagangkan pada level tertinggi lebih dari setahun.

Sementara retorika bank sentral tetap sangat dovish – terutama testimoni minggu ini dari Ketua Federal Reserve AS Jerome Powell, kenaikan imbal hasil obligasi telah menunjukkan keyakinan yang berkembang bahwa kebijakan moneter harus diperketat lebih cepat dari yang dibayangkan.

“Risiko cenderung mengarah pada peningkatan imbal hasil yang lebih cepat. Sejarah telah menunjukkan kepada kita bahwa keluar dari kebijakan bank sentral yang sangat longgar bisa jadi rumit,” kata analis di Nordea, dalam catatan riset. “Sementara Powell untuk saat ini berjanji bahwa pembelian obligasi yang cukup besar akan terus berlanjut, waktu untuk mulai mengubah komunikasi mungkin tidak terlalu jauh di masa depan.”

Bank tersebut mengatakan dolar berisiko memberikan kesalahan dalam konsensus sekali lagi, bergerak menguat ketimbang melemah pada 2021, dan bank juga menurunkan perkiraan akhir tahun untuk EUR/USD menjadi 1,16.

Mata uang yang disukai untuk carry trade dengan leverage semuanya melemah, dan di Eropa USD/TRY naik 0,17% di 7,3473 pukul 17.17 WIB.

Sedangkan rupiah juga bergerak melemah 1,28% di 14.260,0 per dolar AS sampai pukul 15.00 WIB.



Sumber:investing.com