Euro Tidak Terganggu oleh Ancaman Merkel soal ‘Lockdown’ selama 10 Minggu 

 Euro Tidak Terganggu oleh Ancaman Merkel soal ‘Lockdown’ selama 10 Minggu 


Ketangguhan euro sangat mengagumkan. Mata uang tunggal itu mengakhiri hari perdagangan dengan posisi lebih tinggi terhadap dolar AS dan Yen Jepang meskipun Kanselir Jerman Angela Merkel memperingatkan bahwa lockdown dapat berlangsung selama delapan hingga sepuluh minggu jika jumlah kasus virus tak kunjung menurun. Merkel dilaporkan memberitahu pihak-pihak dari partai konservatif bahwa: “apabila kita tidak dapat menahan jalur penyebaran mutan virus COVID-19 asal Inggris, kasus virus di Jerman akan menjadi 10 kali lipat saat Paskah.” Pemerintah juga mengumumkan kebijakan larangan bepergian hingga akhir Mei. Jerman kembali memberlakukan lockdown pada awal November, tetapi pembatasan yang meliputi travel limitation, penutupan sekolah dan binis non-esensial diperketat minggu ini.  Lockdown yang diberlakukan hingga April menimbulkan resesi teknis lainnya dengan kontraksi pada kuartal keempat 2020 dan kuartal pertama 2021. Euro seharusnya jauh lebih lemah namun nyatanya mata uang tersebut terus didukung oleh optimisme virus, suku bunga yang rendah, reli saham yang terus-menerus dan permintaan dolar AS yang lesu. Kami melihat ketangguhan yang sama pada saat musim gugur, ketika EUR/USD mengabaikan tanda-tanda awal gelombang kedua. Apakah EUR/USD akhirnya akan jatuh? Mungkin saja. Namun, mungkin diperlukan koreksi yang lebih signifikan pada untuk mengurangi risiko pada perdagangan saham.

Sementara itu, komen-komen dovish dari Gubernur Bank of England Andrew Bailey membawa lonjakan pada sterling. Terlepas dari masalah virus di Inggris, Bailey mengungkapkan keraguannya mengenai keefektifan suku bunga negatif dan bahwa hal tersebut masih terlalu dini untuk membahas seberapa banyak kebutuhan stimulus akan dibutuhkan. Seperti yang dilaporkan rekan saya Boris Schlossberg sebelumnya, Bailey mengatakan bahwa gagasan tersebut “kontroversial”. Bailey juga mencatat bahwa pandemi memiliki efek inflasi kurang dari ekspektasi.

Dolar AS kembali menguat di tengah sedikitnya data ekonomi yang ada. Dikatakan bahwa Federal Reserve dapat mempertimbangkan pengurangan lebih cepat dari yang disarankan sebelumnya. Dengan kasus virus yang berkecamuk di seluruh negeri, terlalu dini berspekulasi seperti ini. Walaupun demikian, Presiden Fed Raphael Bostic terus menyarankan bahwa dia berada di kubu itu dengan mengatakan bahwa harga lebih kuat dari yang diharapkan. Angka inflasi AS akan dirilis besok – CPI diperkirakan akan lebih kuat dari yang diharapkan, dengan harga gas dan pendapatan rata-rata per jam yang meningkat. Laporan ekonomi AS minggu ini semestinya lebih kuat, menjaga kemungkinan pemulihan dolar.

Ketiga mata uang komoditas tersebut diperdagangkan lebih tinggi pada hari Selasa dengan dolar Australia mencatatkan kenaikan tertinggi. Tidak ada laporan mengenai ekonomi utama yang dirilis dari salah satu negara ini. Hal ini menjadikan kelemahan dolar AS dan pemulihan intraday pada saham mendorong permintaan untuk ketiga mata uang tersebut.



Sumber:investing.com