Fed Tidak Naikan Suku Bunga Hingga 2023, Pembeli Dolar AS Tidak Bergeming

 Fed Tidak Naikan Suku Bunga Hingga 2023, Pembeli Dolar AS Tidak Bergeming


Dolar AS diperdagangkan lebih tinggi sebelum pengumuman kebijakan moneter Federal Reserve. Meskipun kesimpulan utama dari pertemuan FOMC hari ini adalah tidak ada kenaikan suku bunga selama tiga tahun ke depan, greenback menguat, seperti yang terjadi setelah Jackson Hole karena tidak ada yang mengejutkan. Seperti yang diharapkan, Federal Reserve membiarkan monetary policy tidak berubah dan berjanji untuk menahan suku bunga sampai mereka mencapai lapangan kerja maksimum. Namun, pemungutan suara tidak bulat, dengan dua dari sembilan pembuat kebijakan berbeda pendapat. Robert Kaplan menginginkan “fleksibilitas kebijakan yang lebih besar” setelah tujuan lapangan kerja dan inflasi tercapai, sementara Neel Kashkari menginginkan panduan ke depan yang lebih kuat untuk memberi sinyal tidak ada kenaikan sampai inflasi dipertahankan pada 2%. Dot plot menunjukkan 13 dari 17 pembuat kebijakan memproyeksikan suku bunga ditahan hingga 2023 dengan satu anggota memperkirakan kenaikan suku bunga pada 2022 dan tiga memperkirakan tingkat di atas nol pada 2023. Bank sentral tidak mengharapkan inflasi melebihi target sampai 2023. Menurut Ketua Fed Jerome Powell, perubahan pernyataan penting dibuat hari ini untuk mengklarifikasi komitmen jangka panjang Fed terhadap suku bunga rendah. Dia juga menekankan perlunya dukungan fiskal karena tanpanya, perekonomian akan menghadapi risiko penurunan.

Belanja konsumen lebih lemah dari yang diharapkan, naik hanya 0,6% pada bulan Agustus tetapi, sekali lagi, dampaknya terhadap dolar terbatas. Ekonom mengharapkan kenaikan 1%, tetapi masyarakat Amerika merasakan dampak dari tunjangan pengangguran yang telah berakhir. Meskipun Presiden Donald Trump menandatangani perintah eksekutif untuk terus membayar $300 setiap pekan sebagai tunjangan pengangguran, beberapa negara bagian seperti New York hanya menawarkan tiga pekan pembayaran kembali untuk Agustus yang dapat diperpanjang menjadi lima pekan dan, paling banyak, enam pekan. Suatu saat uang akan habis. Meskipun saham meraung, namun ekonomi tidak. Hal itu berarti pengeluaran dapat melambat lebih jauh dalam beberapa bulan mendatang. Namun, untuk saat ini, investor senang dengan komitmen bank sentral terhadap suku bunga rendah dan prospek vaksin akhir tahun ini. Pasokan pertama vaksin, yang dapat keluar dalam waktu 24 jam setelah regulator menyetujui penggunaannya, akan diberikan kepada pekerja penting dan mereka yang membutuhkan. Menurut CDC, vaksin dapat tersedia untuk semua warga Amerika pada awal Q2 atau Q3 2021. Kabar baik seperti ini telah mempertahankan tawaran dolar meskipun prospek suku bunga Fed dovish. Perbaikan juga diharapkan dalam survei Fed Philadelphia besok dan laporan pasar perumahan.

Ada dua pengumuman kebijakan moneter lagi minggu ini – Bank of Japan meeting malam ini dan Bank of England meeting besok. Tidak ada perubahan yang diharapkan dari keduanya, tetapi panduan adalah kuncinya, seperti halnya Fed. Di antara keduanya, pertemuan kebijakan Jepang tidak akan terlalu menggerakkan pasar. Dengan perbaikan data baru-baru ini, tidak ada lagi urgensi untuk meningkatkan stimulus, dan dengan perdana menteri baru, prioritas lain sudah dekat. Di Inggris Raya, kekuatan lebih banyak dibandingkan kelemahan. Pertumbuhan penjualan ritel melambat, pertumbuhan harga konsumen mereda ke level terendah dalam lima tahun sementara upah turun. Perbaikan terlihat di sektor manufaktur dan jasa, tetapi dengan Inggris yang ingin mengesampingkan bagian dari perjanjian penarikan, ketidakpastian dinilai tinggi. Anggota komite kebijakan moneter memilih 9-0 untuk tetap tidak mengubah kebijakan namun malah menaikkan perkiraan pertumbuhan mereka. Meski demikian, awal bulan ini, komentar dari Gubernur BoE Andrew Bailey kurang optimis. Dia menggambarkan belanja konsumen tidak merata dan diimbangi oleh investasi yang lemah. Anggota MPC Dave Ramsden mengatakan bank sentral dapat meningkatkan kecepatan QE secara signifikan jika diperlukan, sementara Michael Saunders mengatakan kemungkinan pelonggaran tambahan akan sesuai. Akan menarik untuk melihat apakah Bailey berbagi pandangan ini dan apakah satu atau dua pembuat kebijakan seperti Saunders memberikan suara yang mendukung kebijakan moneter yang lebih mudah. Jika mereka melakukannya, sterling akan menyerahkan keuntungannya dengan cepat.

Dolar Australia dan Selandia Baru juga akan menjadi fokus dengan PDB Q2 Selandia Baru dan angka pasar tenaga kerja Australia di agenda. Perbaikan pada indikator utama tidak membantu AUD, yang tertinggal karena sebagian ekspektasi untuk kondisi pasar tenaga kerja yang lebih lemah. Menurut PMI, kondisi pasar tenaga kerja di sektor jasa dan manufaktur memburuk bulan lalu. New Zealand Dollar naik untuk hari keempat berturut-turut, tetapi kuartal kedua sulit untuk semua negara dan Selandia Baru tidak terkecuali. Jadi walaupun pertumbuhan PDB Q2 diperkirakan turun 12,5%, sebagian besar traders mengabaikan kelemahan karena mereka adalah salah satu negara pertama yang melakukan pembukaan kembali. Walaupun beberapa pembatasan kembali diterapkan, kehidupan di Selandia Baru mendekati normal daripada kebanyakan negara lain. Mata uang Canadian dollar diperdagangkan lebih tinggi terhadap dolar AS meskipun data inflasi lebih lemah setelah AS menurunkan tarif impor aluminium tepat sebelum Kanada melakukan pembalasan.

UK Economic Indicators.

 



Sumber:investing.com