Greed is Good

 Greed is Good


Greed is good
 
Written by : Ellen May – 22 Des 2020
 
Greed is good jika kita tahu kapan waktunya untuk mulai “serakah” dan kapan waktunya untuk menahan diri. Greed is good jika kita tahu alasan kita “greedy” adalah karena munculnya peluang, bukan sekedar nafsu / emosi. Greed yang rasional akan menguntungkan. Greed yang emosional, tidak hanya akan menghancurkan portfolio investasi, namun juga hidup secara keseluruhan.
 
Bicara tentang greed, saya punya pengalaman berharga sejak tahun 2008 hingga 2020 ini, yang bisa jadi bekal untuk ke depannya, kapan kita harus “greedy” dan kapan kita harus mengerem diri. 
 
2008
 
Masih jelas dalam ingatan saya. Di tahun 2007, pasar saham terus bergerak naik. Indikator perekonomian pun menunjukkan bahwa perekonomian di Indonesia dan di seluruh Amerika saat itu sedang panas-panasnya. Saat itu angka pertumbuhan ekonomi Indonesia GDP 2007 di level 6.3% yang merupakan tertinggi sejak tahun 1996. Tingkat inflasi waktu itu di angka 6.59. 
 
Siapa yang menyangka bahwa krisis finansial akan menghantam di 2008 dan memporakporandakan pergerakan harga saham di Amerika karena krisis subprime mortgage dan juga di negara lain termasuk Indonesia. Waktu itu, IHSG turun lebih dari 60%. Di masa kelam itu, semua orang ketakutan dan tidak berani membeli saham. Namun, justru saham yang saya sempat beli di akhir 2008 berbuah hingga 1600% di 2013.
 
Pengalaman tersebut membuat nasehat dari Warren Buffet “be greedy when others are fearful, be fearful when others are greedy” terngiang di benak saya hingga hari ini, bahkan sangat membantu saya dalam mengambil keputusan investasi di 2020.
 
2020
 
Di tahun 2020 ini, pasar saham bergerak sangat volatil memberi warna berbeda buat investor saham pada umumnya, dan buat saya khususnya sebagai investor, trader, dan juga pengajar. Jika di tahun 2008 saya sibuk menenangkan diri, maka tahun 2020 ini, saya sibuk menenangkan komunitas ketika sedang panik saat harga saham jatuh, dan juga sebaliknya, ngerem ketika sedang euphoria.
 
Beberapa kali pasar saham turun tajam di 2020, yaitu di bulan Maret saat awal pandemi, IHSG sempat turun 31.67% dalam 14 hari, dan di bulan September IHSG anjlok 10.66% dalam 7 hari. Pada saat itu, investor sangat panik, dan pesimis bahwa pasar saham sedang memberi peluang bagus untuk menambah kekayaan dengan membeli saham terdiskon.
 
Nampak pada grafik di bawah ini, perbandingan PE dan PBV dari beberapa saham dalam beberapa tahun terakhir, dan juga di bulan Maret dan September 2020.
 
Momen tersebut adalah momen langka untuk berinvestasi dengan diskon extravaganza, setelah krisis subprime mortgage di 2008. Namun sungguh tidak mudah meyakinkan investor untuk memanfaatkan peluang tersebut, di mana kondisi perekonomian di pertengahan 2020 sedang berat-beratnya. 
 
Semua indikator perekonomian, menunjukkan tanda melambat pada Maret – Juni 2020, terlihat dari data
 
⦁ pertumbuhan GDP yang menunjukkan pendapatan perkapita masyarakat Indonesia, anjlok -5.32%, 
⦁ deflasi 0.10% – 0.05% dari Juli-September, yang menunjukkan perekonomian bergerak melambat.
⦁ Consumer Confidence Index (CCI) sempat anjlok ke angka 77.8 jauh dari batas angka 100, di mana di atas angka 100 artinya masyarakat optimis. 
⦁ Angka Purchasing Managers Index (PMI) Manufacturing sempat anjlok di level 27.5 di bulan April menjadi yang terendah dalam 25 tahun terakhir. Angka PMI di atas 50 menunjukkan manufaktur sedang ekspansif saat ini.
⦁ Penjualan ritel turun jadi -20.6%, penjualan mobil turun 89% bulan Mei dibanding April.
Ditambah lagi kinerja perusahaan mulai berdarah-darah dengan berita PHK di mana-mana. Sepertinya nggak ada bagus-bagusnya, buat investasi.
 
Ketika angka perekonomian mulai menanjak di September 2020 pun, tidak mudah bagi investor pemula untuk mulai berinvestasi karena Indonesia masuk resesi dikarenakan GDP yang masih tumbuh negative selama 2 kuartal berturut-turut.
 
Waktu itu pun saya melirik sektor property, konstruksi dan retail yang masih bervaluasi super terdiskon dibandingkan historikalnya. Tidak banyak yang tertarik dengan saham-saham tersebut karena kinerjanya di 2020 sangat terpukul pandemi. Singkat cerita, setelah berjalannya waktu hingga Desember 2020, kini saham-saham tersebut sudah mulai bertumbuh dan berbuah.
 
Terlampir grafik PBV beberapa saham di sektor property dan konstruksi yang menunjukkan level bottom / termurah di September 2020 dan saat ini masih cukup murah disbanding beberapa tahun sebelumnya.
 
PBV Band Konstruksi
 

WSKT
PTPP

PTPP
  
ket: Bulan September
 
Saat ini kita sudah mencapai penghujung 2020, dan 2021 sudah di depan mata. Pada kuartal ketiga dan keempat 2020 ini nampak bahwa kondisi perekonomian sudah mulai mengalami recovery. Hal ini nampak dari angka pertumbuhan GDP, PMI manufaktur, dan CCI (Consumer Confidence Index), naiknya sales dan juga tingkat mobilitas masyarakat meski pandemi belum usai.
 
Nampak dari gambar di samping bahwa GDP Indonesia mulai berangsur membaik meski masih negatif pada kuartal 3 2020 yang menunjukkan penghasilan per kapita & kesejahteraan masyarakat membaik.
 
GDP

GDP
 
Sumber : Tradingeconomics
 
PMI Manufaktur pun sudah melampaui angka 50 di 51.3 pada bulan Desember yang artinya aktivitas manufaktur makin ekspansif.
 
PMI

PMI
 
Sumber : Tradingeconomics
 
Angka inflasi sudah meningkat menjadi 0.45 setelah sempat 3 bulan deflasi berturut-turut menunjukkan aktivitas ekonomi semakin panas.
 
Inflasi

Inflasi
 
Sumber : Tradingeconomics
 
Tingkat optimisme masyarakat yang ditunjukkan oleh ICC meningkat hampir mendekati angka 100 di mana jika ICC melampaui 100 artinya masyarakat cenderung optimis.
 
Optimisme

Optimisme
 
Sumber : Tradingeconomics
 
Data penjualan ritel sudah mengalami peningkatan, menunjukkan aktivitas belanja masyarakat melai meningkat.
 
Ritel

Ritel
 
Sumber : Tradingeconomics
 
Data penjualan mobil pun terus merangkak naik sejak Mei, dan mencapai level tertinggi dalam 8 bulan terakhir di November 2020, sejak Indonesia terdampak pandemic pada April 2020 yang lalu.
 
Mobil

Mobil
 
Sumber : Tradingeconomics
 
 
2021
 
Berbagai riset dari sekuritas dan pandangan dari teman-teman fund manager pun, kompak bahwa di tahun 2021 nanti akan terjadi demand boom terkait kondisi pandemi yang diprediksi akan membaik, dikarenakan vaksin sudah mulai siap didistribusikan.
Hal ini akan sangat berdampak positif bagi sektor komoditas baik batubara, CPO, gandum, soybean, minyak dan gas.
 
Tidak hanya dari sentimen vaksin. Dari Amerika, kebijakan stimulus, rencana naiknya pajak perusahaan dan perorangan, serta rencana pelaksanaan green energy oleh Joe Biden juga menjadi katalis utama untuk menghijaukan pasar saham di 2021.
 
Masih belum cukup? Di 2021, Indonesia secara khusus pun kebanjiran sentiment positif dari pelaksanaan Ombibus Law dan Sovereign Wealth Fund yang akan berdampak positif bagi sektor konstruksi, infrastruktur dan industry semen.
 
Naiknya harga saham secara signifikan hingga Desember 2020 ini, membuat valuasi saham sudah mulai meningkat. Belum bisa dibilang mahal, namun sudah masuk kategori fair value. Misalnya saja saham BBRI (JK:BBRI), APLN (JK:APLN), SMGR (JK:SMGR), ADHI (JK:ADHI), KAEF (JK:KAEF)
 
Hal ini membuat saya mulai mengantisipasi, faktor risiko apa sajakah yang berpotensi menjadi downside di 2021? Beberapa potensi risiko yang saya antisipasi untuk 2021 antara lain : 
⦁ Vaksin Sinovac yang diimpor ke Indonesia memiliki efficacy rendah dibandingkan vaksin lain. Jika nanti pemberian vaksin tidak efektif, justru malah akan memberikan dampak negatif buat pasar saham.
⦁ Mutasi virus covid-19, yang saat ini masih menjadi tanda tanya besar, apakah bisa tertanggulangi atau justru memperburuk situasi.
 
Beberapa investor memutuskan untuk mengabaikan kedua sentimen tersebut terutama mutase virus yang dianggap masih jauh… belum sampai di Asia. Hal itu menginatkan saya, akan bagaimana respon masyarakat Indonesia ketika pandemi Covid-19 merebak di beberapa negara pada Desember- Februari 2020, di mana Indonesia memilih untuk tenang-tenang saja, daripada bersiap dan mengantisipasi, hingga akhirnya Covid-19 pun merebak tak terkendali saat ini.
 
Apa yang sebaiknya kita lakukan saat ini? Bolehkah terus menambah investasi? Atau haruskah kita mulai menahan diri? Bagaimana kita menyikapi, memanfaatkan peluang pasar saham terus naik, namun tetap terhindar dari risiko?
 
Yuk join Emtrade, di EMTRADE tidak hanya diajarkan tentang beli jual saham dan bukan sekedar rekomendasi, melainkan juga kapan kita harus ngegas dan ngerem untuk profit optimal dan risiko terkendali.
 
Be greedy when others are fearful, be fearful when others are greedy. Warren Buffett
 
Proyeksi saham-saham lokal
 
Slide 1: Harga Minyak Mendidih, Bagaimana dengan Sahamnya?
Slide 2: Harga minyak naik sampai 5.2% pada hari Selasa kemarin dan terus melanjutkan penguatannya sampai hari ini naik 1%. Harga minyak juga berpotensi menguat dalam jangka pendek. 
 
Apa pendorong harga saham bisa naik?
 
Slide 3: Pendorongnya adalah Arab Saudi secara sukarela akan memangkas produksi minyak 1 juta barel per hari (bph) pada Februari dan ekspektasi OPEC+ akan mempertahankan produksi pada bulan Februari.
 
Di sisi lain, trend dolar yang masih melemah juga menjadai katalis positif bagi harga minyak dunia serta adalah ketegangan politik antara Iran dan Korea Selatan
 
Kenaikan harga minyak akan berdampak positif terhadap kinerja saham yang memiliki produk minyak seperti ELSA (JK:ELSA) dan RAJA (JK:RAJA).
 
 
Slide 4: EMtrade merekomendasi ELSA sejak : 06 Januari 2021 di harga 366-372, saat ini 3.8% sd 5.5%. 
ELSA menarik karena penjualan minyak yang berkontribusi terhadap 50% total pendapatannya. ELSA semakin menarik karena valuasi ELSA cukup murah yaitu PBV 0.77x, masih dibawah PBV rata-rata 5 tahun 0.84x dengan upside ke PBV rata-ratannya 8.3%.
 
Slide 6: EMtrade merekomendasi RAJA sejak : 5 Jan 2021 di harga 240-252
RAJA menarik karena secara fundamental cukup murah. PBV RAJA 0.74x, lebih rendah dibanding PBV rata-rata 5 tahun 1.07x dan upsidenya 30.8%.
 
Slide 7: Lalu bagaimana strategi beli sahamnya?
 
Yuk Join emtrade.id untuk tau lebih lengkapnya



Sumber:investing.com