King Dolar AS Menguat, tapi Ketahanannya Masih Diragukan

 King Dolar AS Menguat, tapi Ketahanannya Masih Diragukan


© Reuters.

Oleh Yasin Ebrahim

Investing.com – Dolar Amerika Serikat berakhir menguat pada Sabtu (27/02) pagi di tengah spekulasi bahwa AS akan bisa keluar dari krisis multidimensi lebih kuat daripada rekan-rekannya, tetapi momentum greenback kemungkinan tidak bertahan, analis mengingatkan.

Indeks dolar AS ditutup naik 0,90% ke 90,947 hingga pukul 04.58 WIB menurut data Investing.com. Sedangkan rupiah berakhir melemah 1,28% ke 14.260,0 per dolar AS (USD/IDR).

Ekspektasi bahwa ekonomi AS kemungkinan akan keluar dari krisis “lebih baik dan lebih cepat daripada banyak negara lain” telah mendorong ekspektasi inflasi dan imbal hasil US obligasi naik tajam baru-baru ini, memicu pergerakan dolar yang lebih tinggi, Commerzbank (DE:CBKG) menyampaikan.

Data pada hari Jumat, bagaimanapun, menunjukkan bahwa kekhawatiran inflasi yang tak terkendali kemungkinan bisa salah tempat karena indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE), ukuran inflasi yang disukai Federal Reserve, menunjukkan tekanan harga yang menghangat bulan lalu. Dalam 12 bulan hingga Januari, indeks harga PCE naik 1,5% dari 1,4% pada Desember.

Tetapi dengan ronde lain dari stimulus fiskal yang diperkirakan akan datang, dan Federal Reserve tampaknya puas untuk melanjutkan laju pembelian obligasi dan suku bunga mendekati nol, investor memperkirakan kenaikan lebih lanjutan inflasi yang dapat mendorong harga.

“Sebuah putaran pembaruan pada posisi keuangan konsumen AS menawarkan kilasan ke arah apa yang ada di depan dalam bentuk rebound yang dimotori konsumen yang kuat didorong oleh stimulus fiskal besar-besaran. Dalam prosesnya, bukti tekanan inflasi mungkin sudah ada pada kita,” Scotia Economics menjelaskan.

Namun, yang lainnya, tidak mengharapkan inflasi dan kenaikan lanjutan dolar untuk berlanjut.

“Untuk paruh kedua tahun ini, kami memperkirakan ekspektasi inflasi dan imbal hasil obligasi agak turun kembali. Kemudian dolar, yang masih diuntungkan dari kenaikan imbal hasil obligasi AS, akan melemah lagi,” tambah Commerzbank.



Sumber:investing.com