Kopi, Cokelat Tidak Bereaksi terhadap Pembukaan Ekonomi Karena Konsumsi Terpukul

 Kopi, Cokelat Tidak Bereaksi terhadap Pembukaan Ekonomi Karena Konsumsi Terpukul


Saham Starbucks (NASDAQ: SBUX) melonjak 3,2% pada hari Selasa setelah rantai kopi terkenal di dunia tersebut mengatakan berencana untuk kembali membuka 85% dari kedai kopi AS pada akhir minggu ini, dengan penekanan pada pemesanan melalui ponsel, pengambilan pesanan tanpa kontak  fisik dan pembayaran tanpa uang tunai, sebab makin banyak kota dan negara bagian yang melonggarkan kebijakan lockdown COVID-19. Kopi AS, sementara itu, naik 1,5% setelah tiga hari mengalami kerugian. Selain itu, ceritanya tidak hanya sampai situ saja.

US Coffee C Futures Daily Chart

“Permintaan dari kedai kopi dan operasi layanan makanan lainnya telah turun hingga hampir tidak ada,” kata Jack Scoville dari Price Futures Group Chicago, yang menghabiskan tiga dekade di pialang untuk melacak komoditas lunak seperti kopi, kakao, jus jeruk dan gula, dan biji-bijian.

“Para konsumen masih meminum kopi di rumah, tetapi banyak pemanggang kopi berskala kecil secara aktif mencoba menurunkan muatan kopi hijau yang sudah dibeli,” jelas Scoville. “Hanya ada beberapa outlet yang melakukan penjualan saat ini.”

Di Cleveland, Ohio, Malley’s Chocolates telah membuka kembali tujuh outletnya setelah kehilangan kesempatan untuk berjualan pada akhir pekan Hari Ibu, di mana toko-tokonya biasanya penuh dengan keluarga yang membelikan cemilan manis untuk Ibu mereka. Seperti Starbucks, Malley’s telah memerintahkan penggunaan masker wajah dan pelindung plastik untuk melindungi karyawan saat kembali bekerja. Malley’s juga berencana mengubah shift kerja untuk memastikan jarak sosial yang tepat dan jam operasional toko dapat berubah.

Perdagangan coklat futures di New York berakhir flat pada hari Selasa setelah tiga minggu berturut-turut mengalami kerugian.

US Cocoa Futures Daily Chart

US Cocoa Futures Daily Chart

Dampak Berbeda terhadap Komoditas Berbeda Akibat COVID

Pada kasus kakao, “virus menyulitkan usaha pertanian dan pemasaran,” kata Scoville.

“Menurutnya pengiriman bisa lebih lambat pada kakao yang dikontrak dan bahwa panen berikutnya bisa menderita karena para pekerja menjauh.”

Coronavirus terus memberikan dampak yang berbeda pada bahan baku yang berbeda di dunia komoditas.

Pada minyak, pembukaan kembali AS mungkin memiliki efek terbesar, dengan harga minyak mentah naik 240% dari posisi terendah 28 April. Namun, bukan hanya ekspektasi permintaan bensin yang mendorong rebound minyak. Dari ladang minyak di Oklahoma hingga ladang di Pantai Teluk Arab, para pengebor menghentikan produksi dengan kecepatan yang mengkhawatirkan.

Sementara penurunan produksi juga terjadi di kopi dan kakao, permintaan bergerak lebih lambat untuk kembali menuju kedua komoditas ini. Seperti yang dijelaskan Scoville, warga bukannya tidak lagi minum kopi atau makan cokelat. Hanya saja mereka mengonsumsi lebih banyak kopi dari mesin pembuat kopi atau kulkas di rumah dibandingkan minum ke kafe mewah atau toko cokelat di kota. Kurangnya “permintaan komersial” adalah salah satu hal yang membebani pasar komoditas ini.

Starbucks sementara menutup sekitar setengah dari 8.000 toko AS yang dimiliki perusahaan pada akhir Maret dan merupakan salah satu rantai nasional pertama yang mengumumkan rencana pembukaan kembali.

Raksasa kopi yang berbasis di Seattle tersebut menjelaskan protokol baru untuk aktivitas operasinya, yang meliputi porsi penggunaan aplikasi ponsel yang lebih besar untuk melakukan pemesanan yang akan sangat cocok untuk perusahaan. Penggunaan aplikasi ponsel sudah dilakukan oleh sekitar 20 juta pelanggan, aplikasi ini akan mencakup opsi baru untuk pemesanan lewat pesan suara dan penjemputan di pinggir jalan, tulis chief executive Kevin Johnson dalam suratnya kepada para pelanggan pada hari Senin.

Johnson mengatakan bahwa lebih dari 80% pesanan di AS merupakan pesanan “on the go” melalui drive-through atau aplikasi ponsel, bahkan sebelum pandemi.

Hampir 40 Juta Orang Amerika Tidak Bekerja, Pemulihan Tertunda

Starbucks juga menerapkan pengalaman yang telah dipelajarinya di Cina, di mana lebih dari 98% tokonya telah dibuka kembali. Starbucks juga meningkatkan investasi pada kecerdasan buatan yang akan membantu perusahaan membuat “keputusan berbasis data” tentang pembukaan kembali toko dan perubahan lainnya.

“Kami memberikan penekanan besar pada cara teraman dan ternyaman bagi pelanggan untuk memesan minuman favorit mereka dari Starbucks,” kata Johnson.

“Ketika kita secara bertahap keluar dari isolasi, orang-orang akan mendambakan koneksi dan komunitas yang merupakan hal mendasar bagi umat manusia.”

Namun dengan hampir 40 juta orang Amerika tidak bekerja dan penjualan ritel AS turun hingga ke rekor 16,4% pada bulan April ketika COVID-19 menyerang negeri, Starbucks dan kafe lainnya mungkin membutuhkan waktu lebih untuk melihat pemulihan penuh pada permintaan kopi mereka seharga $5 atau lebih.

“Logistik pemindahan kopi dari Amerika Tengah dan Selatan tetap sulit,” kata Scoville dari Price Futures Group.

“Para produsen kesulitan membuat pekerja kembali bekerja, dan para pengolah mengalami kesulitan membuat pekerja menyiapkan para staf di pabrik. Logistik pengiriman agak membaik, tetapi banyak yang masih kesulitan mendapatkan kopi untuk didistribusikan ke negara-negara konsumen. ”

Jadi, kemana perginya kopi AS dari sini?

Pada penyelesaian Selasa sebesar $1,0508 per lb, para analis yang dilacak oleh Investing.com masih memiliki “Strong Sell” pada kopi AS. Perkiraan downside maksimal oleh para analis adalah 99,45 sen sementara upside atas terlihat di $1,0785.

Pada kakao, para analis yang diwawancarai oleh Bloomberg memperkirakan jumlah penggilingan yang lebih rendah di Eropa dan Amerika Utara oleh prosesor yang ingin membuat cokelat, es krim, dan produk penganan dan kue lainnya.

“COVID-19 membantu menjauhkan permintaan dan menjaga pekerja dari fasilitas penggilingan dan produsen cokelat,” kata Scoville.

“Aktivitas panen kini berakhir untuk panen utama di Afrika Barat dan hasilnya sejauh ini sangat bagus. Gagasannya adalah bahwa permintaan berkurang dibandingkan sebelumnya karena masalah COVID-19 di Eropa. Laporan dari Afrika Barat menyiratkan panen besar di wilayah ini. “

Pada penyelesaian hari Selasa sebesar $2.411,50 per ton, para analis yang dilacak oleh Investing.com masih memiliki “Buy” pada kopi AS. Perkiraan upside maksimal oleh para analis adalah $2.515,34, sedangkan downside utama terlihat pada $2,251.34.



Sumber:investing.com