Tembaga Mungkin Tidak Dapat Mencapai Jackpot $3 Meskipun Pasokan Sedang Krisis

 Tembaga Mungkin Tidak Dapat Mencapai Jackpot $3 Meskipun Pasokan Sedang Krisis


Bulls tembaga tidak memiliki kesempatan sebagus ini dalam tiga tahun. Tetapi terlepas dari seberapa jauh hal ini bagi mereka, investor yang memegang copper futures AS mungkin tidak akan mendapat plum prize of $3 per lb dalam waktu dekat.

“Dunia Membutuhkan Banyak Tembaga, tetapi Tidak Akan Mendapatkannya dengan harga $3 Per Pound,” tulis investor Kanada, Marin Katusa dalam postingan panjangnya musim panas lalu.

Setahun kemudian, itu mungkin terbukti benar. COMEX copper futures September mengalami kenaikan untuk minggu kedelapan berturut-turut, naik kumulatif 22% dalam dua bulan terakhir. Terakhir kali tembaga menguat selama berminggu-minggu berturut-turut adalah pada tahun 2017. Itu terjadi ketika harga mulai dari $2,62 per lb ke tertinggi $3,18 antara awal Juli dan akhir Agustus, ketika naik sekitar 20%.

Daily COMEX Copper Futures

Selama Dua Tahun, Tembaga Telah Turun Di Bawah $3/lb

Yang berbeda saat ini adalah ambang batas $3, yang telah menjadi resistensi yang hampir tidak mungkin untuk tembaga berjangka untuk ditembus selama dua tahun terakhir, karena pergerakan konstan dari ekonomi global, bahkan sebelum menyebarnya Covid-19. Tembaga terakhir diperdagangkan sekitar $3 pada musim semi 2018, sampai sengketa perdagangan antara AS dan China meledak dengan kedua belah pihak menampar tarif barang dan jasa masing-masing.

Walaupun pandemi ini diperkirakan tidak dapat membuat target untuk $3 tembaga lebih mudah, yang juga aneh adalah bahwa pasar tidak dipengaruhi oleh keadaan ekonomi global saat ini.

Faktanya, reli selama delapan minggu terakhir terutama disebabkan oleh kekhawatiran atas kemacetan pasokan tembaga yang berasal dari Amerika Selatan. Ribuan pekerja tembaga jatuh sakit di Chili, produsen utama, yang menyumbang lebih dari seperempat produksi global.

Tambang di Chili telah menunda kegiatan yang dianggap tidak penting dan mengurangi tenaga kerjanya, dalam upaya untuk menjaga keselamatan pekerja, tanpa mengurangi terlalu banyak hasil. Infeksi ini juga memperlambat pemulihan pertambangan di produsen tembaga No. 2 Peru.

Efek gabungan dari kedua hal ini mendorong reli di tembaga, mendorong copper futures selama tiga bulan di London Metal Exchange ke tertinggi 14-bulan $6.360 per ton pada Kamis, sementara bulan depan AS berjangka mencapai enam bulan puncak $2,8752 per lb.

Reli Pasokan Kemungkinan Akan Terjadi

Covid-19 dan stres yang ditimbulkannya pada tambang sedang melakukan tugas mereka dalam mendorong harga tembaga. Walaupun itu tidak mengejutkan, hal ini sangat jarang terjadi selama salah satu resesi global terbesar dalam sejarah. Julukan “Dr. Copper” yang biasanya dapat memprediksi ekonomi global kini sudah tidak tepat lagi. 

Seperti yang dicatat Bloomberg dalam analisis pada hari Kamis, “harga tembaga melonjak, dan untuk kali ini bukan karena ledakan ekonomi.”

Tetapi kembali ke tembaga dan target $3.

Pada April 2019, pasar tembaga AS mencapai titik tertinggi di $2,9860. Faktanya, antara bulan Februari dan Mei tahun lalu, tembaga COMEX berjarak $3 per lb, tetap di atas $2,93 dalam tiga bulan tersebut.

Jika saat itu tembaga tidak dapat bangkit, begitu pula saat ini.

Ketatnya global dalam produksi tembaga dapat dengan segala cara menjaga harga berjangka AS di atas $2,85, bahkan mencapai $2,90.

Tetapi efek dari pandemi ini juga bisa menjadi pedang bermata dua untuk tembaga: mengganggu pekerjaan tambang dan produksi yang mendorong harga naik di satu sisi, sementara menghambat pemulihan ekonomi yang akan menjadi bagian integral dari pertumbuhan permintaan.

Seperti yang dikatakan Katusa dalam posnya setahun yang lalu, salah satu pendorong terbesar permintaan tembaga di tahun-tahun mendatang adalah kendaraan listrik, yang diperkirakan akan memimpin pertumbuhan permintaan 4,5% per tahun selama seperempat abad berikutnya.

Tetapi pertumbuhan dalam industri EV belum menjanjikan seperti yang dijanjikan dan permintaan untuk tembaga belum juga bangkit.

Ekonomi Adalah Kuncinya

Dengan terjadinya penurunan pasokan pada tambang tembaga karena penurunan kadar bijih, biaya produksi kemungkinan akan tumbuh juga. Produksi yang lebih rendah melawan permintaan yang lemah dapat memicu tarik-menarik di pasar yang akan menahan setiap kenaikan harga utama.

Katusa mengatakan permintaan tembaga dapat meledak selama lima tahun ke depan, menghasilkan harga COMEX setinggi $5 per lb:

“Hal utama yang dapat diambil adalah bahwa pasar tembaga yang ketat akan menjadi sangat ketat selama 60 bulan ke depan, setelah itu pertumbuhan permintaan tembaga akan secara signifikan melebihi produksi yang tersedia. Saya percaya ini akan menghasilkan pasar emas yang luar biasa untuk tembaga.”

Singkatnya, dia bertanya apakah industri pertambangan tembaga dapat memenuhi permintaan sebanyak itu, dan memberikan jawabannya sendiri, dengan mengatakan: “Ya, tetapi tidak dengan tembaga dengan harga $3 per pon.”

Skenario permintaan itu diperkirakan tidak akan terjadi dalam waktu dekat, dan begitu pula harganya.

Peringatan: Barani Krishnan tidak memiliki atau memegang posisi dalam komoditas atau surat berharga yang ia tulis.



Sumber:investing.com