Tertutupnya Peluang Stimulus Mungkin Jadi Isyarat untuk Koreksi Minyak

 Tertutupnya Peluang Stimulus Mungkin Jadi Isyarat untuk Koreksi Minyak


Hukum Newton mengatakan bahwa segala sesuatu yang naik, pasti akan turun. Mereka yang memegang posisi long pada minyak tentu saja tidak mengharapkan hal itu terjadi.

Layaknya pepatah kucing memiliki sembilan nyawa, reli minyak mentah telah bertahan dan berhasil menghadapi satu demi satu ujian yang berat.

Oil Daily

Oil Daily

Laju peluncuran vaksin COVID-19 yang meleset dari perkiraan dan rapuhnya proses pemulihan ekonomi AS yang rusak akibat pandemi merupakan dua contoh perkembangan kehati-hatian yang tidak mengganggu sedikit pun kenaikan harga minyak.

Hal yang perlu mendapat perhatian adalah ketidakpedulian yang ditunjukkan oleh komunitas yang memegang posisi long pada minyak terhadap anemi permintaan bensin, bahan bakar jet, dan bahan bakar kapal karena konsumsi bahan bakar dunia untuk perjalanan, penerbangan, dan kapal pesiar tetap lebih sedikit dibandingkan dengan tahun lalu.

Kelompok yang sama ini malah mengarahkan panah pada penurunan jumlah penarikan minyak mentah AS mingguan yang terlihat sejak akhir Januari. Penurunan jumlah persediaan minyak mentah terjadi saat para penyuling memaksimalkan produksi produk bahan bakar untuk mengantisipasi lebih banyak permintaan dalam beberapa bulan mendatang berdasarkan target imunisasi dari pemerintahan Biden dan pemerintah lainnya.

Negara-negara di dunia terutama Amerika Serikat, kecuali China dan sampai batas tertentu India, memperoleh lebih banyak permintaan tersirat dari para penyuling dibandingkan permintaan dari para pengguna akhir bahan bakar. Namun, produk minyak mentah dan bahan bakar seperti bensin diperdagangkan dengan harga tertinggi sebelum pandemi.

Kondisi demikian bukan berarti para trader minyak telah sepenuhnya mengabaikan semua hal negatif yang terjadi di pasar minyak.

Jumat lalu, patokan minyak mentah mengalami penurunan harga paling tajam dalam satu hari sejak pertengahan Januari. Patokan minyak mentah West Texas Intermediate AS mengalami penurunan harga sebesar 2% sedangkan Brent London mengalami penurunan harga sebesar 1,6%. Kondisi ini terjadi di tengah adanya kekhawatiran bahwa ledakan Arktik yang mengganggu produksi di Texas dapat mengakibatkan terjadinya pemadaman kilang yang kemudian akan menumpuk stok minyak mentah.

Brent Daily

Brent Daily

Namun, penurunan harga seperti itu hanya jarang terjadi dibandingkan kenaikan yang sangat besar yang telah membengkakkan nilai WTI dan Brent setidaknya 70% sejak akhir Oktober.

Setiap Penurunan Diikuti dengan Reli yang Lebih Tinggi

Seringkali, setiap penurunan harga yang cukup signifikan akan diimbangi oleh reli yang lebih besar pada satu atau dua sesi berikutnya. Aksi jual pada hari Jumat, misalnya, terhalang oleh lonjakan WTI sebesar 4% pada hari Senin karena banyak pihak optimis akan adanya tagihan bantuan COVID-19 sebesar $1,9 triliun yang diusulkan Biden.

Faktanya, ekspektasi atas stimulus ini, dikombinasikan dengan keuntungan membeli obligasi dan suku bunga yang mendekati nol dari Federal Reserve sejak dimulainya pandemi, telah menciptakan banjir uang murah di pasar. Hasilnya adalah reli yang sangat kuat di hampir semua jenis ekuitas hingga komoditas, akibat aksi pembelian yang dilakukan oleh semua jenis investor, dari trader harian hingga pengelola dana lindung nilai dan uang institusional.

Jalan mulus inilah yang membuat reli komoditas terus melaju. Reli komoditas kemungkinan akan mengalami lonjakan ketika aliran uang ke pasar mencapai semacam puncak temporal yang ditetapkan dalam benak para investor.

Dalam istilah praktis, koreksi minyak mungkin dipicu setelah tertutupnya kesempatan stimulus Biden diterima melalui Kongres. Atau lebih buruk, jika RUU itu goyah karena alasan tertentu di Senat, di mana Partai Demokrat yang mendukung presiden hanya memiliki satu mayoritas efektif. Sampai saat itu, mungkin aman mengasumsikan bahwa tidak akan terjadi aksi jual minyak yang berarti atau berkepanjangan.

Biden sangat fokus pada RUU stimulus, menjadikan RUU stimulus sebagai agenda nomor satu dalam rencana kerja pada 100 hari pertamanya menjabat, selain agenda mengimunisasi sebanyak mungkin warga Amerika. Dan para pemandu sorak di kedua komoditas dan di Wall Street—terlepas dari aksi jual yang dipimpin oleh NASDAQ selama dua hari terakhir — telah melakukan banyak hal bersama presiden.

Target Pertengahan Maret untuk Stimulus Mungkin Jadi Isyarat untuk Minyak

Pemimpin Mayoritas Senat Chuck Schumer telah menetapkan 14 Maret sebagai targetnya agar RUU COVID-19 Biden ditandatangani menjadi undang-undang. Tanggal 14 Maret mungkin juga menjadi target untuk reli minyak mencapai puncak temporal, dan untuk kemunduran yang cukup berarti.

Tentu saja, tidak ada hal yang pasti, dan harga komoditas energi bisa saja berubah selama tiga minggu ke depan. Bank of America Merrill Lynch melihat harga Brent naik hingga $70 pada akhir kuartal pertama. Goldman Sachs, sementara itu, berpendapat bahwa harga patokan minyak mentah global akan mencapai $75 pada kuartal ketiga.

Adanya potensi penumpukan persediaan minyak mentah selama satu atau dua minggu ke depan dapat membebani harga minyak. Kondisi ini akan terjadi terutama jika kilang di Texas membutuhkan waktu yang lebih lama dari perkiraan untuk pulih dari badai salju terburuk dalam tiga dekade terakhir yang menghantam pusat produksi komoditas energi AS.

Pertanyaan besar lainnya juga muncul tentang negosiasi apa yang dapat dicapai AS dan Iran selama beberapa minggu ke depan agar Teheran sekali lagi mengekspor minyaknya ke pasar dunia tanpa adanya sanksi era Trump.

Tentu saja, hal yang mustahil terjadi adalah apakah negara Republik Islam tersebut pertama-tama akan memenuhi permintaan Biden untuk menghentikan semua pengayaan uranium—yaitu. pembuatan bom nuklir—syarat agar Iran dapat mencapai kesepakatan dengan Gedung Putih.

Pada puncaknya, Iran memproduksi sebanyak 4,0 juta barel per hari dan mengekspor sekitar setengah dari total produksi minyak sebelum sanksi dijatuhkan oleh Trump terhadap Iran pada tahun 2018.

Namun banyak pihak, termasuk Goldman Sachs, mengecilkan potensi dampak kembalinya Iran ke pasar ekspor minyak. Dalam catatan yang dikeluarkan pada akhir pekan, bank Wall Street tersebut mengatakan:

“Secara khusus, pemulihan ekspor Iran kemungkinan akan memakan waktu berbulan-bulan dan ekspor selanjutnya akan diakomodasi oleh output OPEC+ musim panas ini yang diasumsikan agak meningkat secara agresif.”

“Kondisi ini meningkatkan keyakinan kami di pasar minyak yang kuat musim panas ini, ketika kami memperkirakan inventaris OECD akan kembali normal,” tambahnya, mengacu pada stok minyak mentah di negara-negara paling maju di dunia.

Hal yang Menambah Kekhawatiran: Kesepakatan Baru OPEC+; Apa Yang Dapat Diperbuat Minyak Seharga $65 untuk Minyak Serpih AS

Output OPEC+ yang direferensikan oleh lingkaran Goldman Sachs kembali menjadi bahan observasi awal minggu ini oleh kolega saya Geoffrey Smith tentang reli minyak yang tampaknya tak berujung.

Artikel itu mencatat bahwa Rusia sudah mendorong peningkatan produksi secara signifikan pada tinjauan bulanan pakta produksi Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC+) yang diperbesar minggu depan, yang merupakan sekutu utama Moskow.

Ketika blok itu mengadakan pertemuan pada bulan April untuk menetapkan tingkat produksi baru, pemimpinnya Arab Saudi pasti ingin membalikkan pemotongan produksi minyak sepihak sebesar 1 juta barel per hari yang diberlakukan kerajaan untuk mempertahankan persatuan yang sudah retak sebulan yang lalu.

Sebagai konteks, Arab Saudi dan Rusia telah mampu mengendalikan persaingan mereka dan tetap melakukan pemotongan produksi sesuai perjanjian mereka. Secara keseluruhan, OPEC+ masih menahan kapasitas produksi minyak lebih dari 6 juta barel per hari sebagai cadangan. Akibatnya, jumlah stok minyak di dunia, yang mencapai rekor tertinggi karena permintaan anjlok musim panas lalu, akan kembali ke rata-rata lima tahun pada pertengahan tahun, menurut laporan bulanan terbaru International Energy Agency.

Peningkatan OPEC+ dapat memacu pembor minyak serpih AS untuk meningkatkan produksi mereka untuk pertama kalinya dalam setahun. Jumlah stok minyak serpih telah berkurang sejak mencapai angka tertinggi 13,1 juta barel per hari pada Maret 2020. Sementara pembor minyak serpih masih dalam mode konservasi tunai, harga WTI dan Brent yang mendekati $65 pasti akan menjadi dorongan mereka untuk menambah barel minyak serpih, kata Smith.

Haruskah minyak memasuki fase jual, seberapa rendah pergerakan minyak secara teknikal?

Sunil Kumar Dixit dari SK Dixit Charting di Kolkata, India, memberikan beberapa petunjuk, mematok WTI ke level harga terendah $51,60 dan Brent di harga $58,30, mengatakan kedua patokan minyak mentah secara teknikal telah diperpanjang selama berbulan-bulan.

Dixit menambahkan:

“Terobosan di bawah terendah 19 Februari WTI di harga $58,57 akan bertepatan dengan Bollinger Band tengah grafik harian dan Simple Moving Average 20-Hari.

“Kondisi ini akan diikuti oleh harga terendah 12 Februari sebesar $57,39, yang sangat mungkin memicu rantai siklus koreksi, mendorong WTI ke Exponential Moving Average (EMA) 10-minggu di $55,10 dan EMA 50 Hari di $54,77. Penjualan dapat meluas ke area support horizontal $53,77-$51,60”.

Di Brent, Dixitt mengatakan tanda-tanda kelemahan mulai terlihat “dengan terobosan di bawah $62,30 untuk menguji ulang lebih jauh di bawah Simple Moving Average 200 minggu di $58,30.”

Sanggahan: Barani Krishnan menggunakan berbagai pandangan eksternal untuk membawa keragaman dalam analisisnya tentang pasar mana pun. Sebagai seorang analis Investing.com, Krishnan menyajikan pandangan dan variabel pasar yang beragam.

Kami sangat menerima dan menantikan komentar dari pembaca. Komentar yang tidak pantas akan dilaporkan dan dihapus.



Sumber:investing.com